Sumber : Situs Keuskupan Agung Semarang

RITUS PEMBUKA

Antifon Pembuka (bdk. Yes. 66:10-11)

Bersukacitalah, hai Yerusalem, dan berhimpunlah, kamu se­­mua yang mencintainya; bergembiralah dengan sukacita, hai kamu yang dulu berdukacita, agar kamu bersorak-sorai dan dipuaskan dengan kelimpahan penghiburanmu.

 

Pengantar

I     Minggu Prapaskah keempat disebut pula Minggu LAETARE atau Minggu Sukacita. Di mana sukacita itu? Bukankah se­ru­an pertobatan justru semakin diku­mandangkan? Suka­­­cita di sini terungkap seperti disebut dalam antifon pembuka, sukacita karena penghiburan dari Allah. Oleh karena itu, pertobatan bukan menjadi beban melainkan men­­jadi kesempatan menga­lami kasih Allah yang lebih utuh. Pertobatan akan membuat orang serasa mengalami kesembuhan dari kebutaan, bangkit dari kelumpuhan, dan lebih dalam lagi mengalami rahmat Allah yang diberikan kepada kita.

 

Tobat

I     Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah membuka mata si buta, sehingga ia dapat memandang Engkau sebagai Penyelamat dunia. Tuhan, kasihanilah kami.

U   Tuhan, kasihanilah kami.

I     Engkau telah membutakan mata mereka yang tidak mau mengakui kelemahannya dan menutup diri terhadap yang benar dan luhur. Kristus, kasihanilah kami.

U   Kristus, kasihanilah kami.

I     Engkau telah membuka mata kami, sehingga kami da­pat me­lihat dan mengakui dosa-dosa kami, serta me­­man­dang Engkau sebagai Penyelamat kami. Tuhan, kasihanilah kami.

U   Tuhan, kasihanilah kami.

Madah Kemuliaan ditiadakan

 

Doa Pembuka 1

I     Marilah kita berdoa. (hening sejenak)

Ya Allah, dengan pengantaraan Sabda-Mu Engkau telah me­mulihkan hubungan damai dengan umat ma­nusia secara meng­agumkan. Kami mohon, berilah agar umat kristiani, dengan cinta bakti yang penuh semangat dan iman yang hi­dup, bergegas me­nyong­song hari-hari raya yang akan datang. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.

  Amin.

Doa Pembuka 2

    Marilah kita berdoa. (hening sejenak)

Allah Bapa kami, melalui Yesus Kristus, Putra-Mu, Engkau telah membuka hati kami untuk melihat kasih-setia-Mu. Kami mohon, berilah kami hati yang hidup dan peka untuk men­dengarkan sabda-Nya serta berilah kami mata yang baru agar dapat memandang-Nya sebagai Juru Selamat yang akan membebaskan kami dari kegelapan dosa dan maut. Dialah Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.

  Amin.

 

 

LITURGI SABDA

Bacaan Pertama (1Sam. 16:1b.6–7.10–13a)

Sejak masa muda, Daud sudah menyatakan kerinduannya kepada Allah. Hati Daud yang sungguh-sungguh mendambakan Allah menjadi alasan utama Allah mengurapinya menjadi raja menggantikan Saul bagi umat Israel. Daud dipakai Tuhan untuk karya keselamatan-Nya. Orang yang dipakai Tuhan, pasti dikaruniai hikmat dan urapan Roh. Tanpa hikmat dan urapan Roh, karya manusia tidak akan optimal dan kehendak Tuhan tidak akan dilaksanakan secara sempurna.

   Pembacaan dari Kitab Pertama Samuel:

Daud diurapi menjadi raja Israel.

Setelah Raja Saul ditolak, berfirmanlah Tuhan ke­pada Samuel, ”Isilah tabung tandukmu dengan mi­­nyak, dan per­gilah. Aku mengutus engkau ke­pada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.” Ketika anak-anak Isai itu masuk, dan ketika melihat Eliab, Samuel berpikir, ”Sungguh, di hadapan Tuhan sekarang berdiri yang diurapi-Nya.” Tetapi ber­firmanlah Tuhan kepada Samuel, ”Janganlah terpancang pada paras atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai, ”Semuanya ini tidak dipilih Tuhan.” Lalu Samuel berkata kepada Isai, ”Inikah semua anakmu?” Jawab Isai, ”Masih tinggal yang bungsu, tetapi ia sedang menggembalakan kambing dom­ba.” Kata Samuel kepada Isai, ”Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari.” Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Kulitnya kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu Tuhan berfirman, ”Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.” Samuel mengambil tabung tanduknya yang berisi mi­nyak itu, dan mengurapi Daud di tengah saudara-saudaranya.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U   Syukur kepada Allah.

 

Mazmur Tanggapan (Mzm. 23:1-3a.3b-4.5.6; Ul:lih.1)

Ulangan: Tuhanlah gembalaku, tak ’kan kekurangan aku.

Ayat:

  1. Tuhan adalah gembalaku, aku tidak kekurangan: ’ku di­baring­kan-Nya di rumput yang hijau, di dekat air yang tenang. ’Ku dituntun-Nya di jalan yang lurus demi nama-Nya yang kudus.
  2. Sekalipun aku harus berjalan di lembah yang kelam aku tidak takut akan bahaya, sebab Engkau besertaku; sungguh tongkat penggembalaan-Mu itulah yang menghibur aku.
  3. Kausiapkan hidangan bagiku di hadapan lawanku, Kauurapi kepalaku dengan minyak, dan pialaku melimpah.
  4. Kerelaan yang dari Tuhan dan kemurahan ilahi mengiringi langkahku selalu sepanjang umur hidupku. Aku akan diam di rumah Tuhan sekarang dan senantiasa.

 

Bacaan Kedua (Ef. 5:8–14)

Penebusan Kristus menjadikan setiap orang yang percaya kepada-Nya beralih dari kegelapan menuju hidup yang terang. Orang yang hidup dalam terang sudah semestinya hidup dalam kebaikan, keadilan, dan kebenaran. Segala ke­utamaan itu bukan usaha manusia namun merupakan berkat cahaya Kristus. Sedangkan mereka yang hidup dalam kegelapan akan melakukan perbuatan-perbuatan yang memalukan dan membinasakan.

   Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus:

Bangkitlah dari antara orang mati, maka Kristus akan bercahaya atas kamu.

Saudara-saudara, memang dahulu kamu adalah ke­gelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang. Karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan kebenaran. Ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya, telanjangilah perbuatan-per­buat­­­­­an itu. Sebab menyebut saja apa yang mereka buat di tempat-tempat yang tersembunyi sudah memalukan. Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu men­jadi tampak, sebab semua yang tampak adalah terang. Itu­lah sebabnya dikatakan, ”Bangunlah, hai kamu yang tidur, dan bangkitlah dari antara orang mati, maka Kristus akan bercahaya atas kamu.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

  Syukur kepada Allah.

 

Bait Pengantar Injil (Yoh. 8:12b)

S    Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

U   Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

S    Akulah cahaya dunia; siapa yang mengikuti Aku akan hidup dalam cahaya abadi.

  Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

 

Bacaan Injil (Panjang) Yoh. 9:1–41

Yesus adalah terang yang membebaskan manusia yang percaya kepada-Nya dari kegelapan maut. Mereka yang dengan rendah hati menerima terang itu, akan menerima tidak hanya terang fisik, namun juga terang iman. Ia dimampukan oleh Yesus untuk semakin mengenal dan menerima Yesus tidak hanya sebagai nabi, atau yang datang dari Allah, melainkan sebagai Anak Allah. Namun, mereka yang sombong atau bahkan menolak terang itu dengan berbagai tipu daya justru akan jatuh dalam kegelapan. Mereka akan menjadi buta terhadap keselamatan yang ditawarkan oleh Allah.

I     Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:

Orang buta itu pergi, membasuh diri, dan dapat melihat.

Sekali peristiwa, ketika Yesus sedang berjalan lewat, Ia me­­lihat seorang yang buta sejak lahir. Murid-murid-Nya ber­tanya kepada-Nya, ”Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus, ”Bukan dia dan bukan juga orang tua­­­nya, tetapi karena pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang. Akan datang malam, di mana tak seorang pun dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.” Sesudah mengatakan semua itu, Yesus meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya, ”Pergilah, basuhlah dirimu di kolam Siloam.” Siloam artinya: ”Yang Diutus”. Maka pergi­lah orang itu. Ia membasuh dirinya, lalu kembali dengan matanya sudah melek. Maka te­tangga-tetangganya, dan me­reka yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata, ”Bukankah dia ini yang selalu mengemis?” Ada yang ber­kata, ”Benar, dialah ini!” Ada pula yang berkata, ”Bukan, tetapi ia serupa dengan dia.” Orang itu sendiri berkata, ”Be­nar, akulah dia.” Kata mereka kepadanya, ”Bagaimana matamu menjadi melek?” Jawabnya, ”Orang yang disebut Kristus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku, dan berkatalah kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi, dan setelah membasuh diri, aku dapat melihat.” Lalu mereka berkata kepadanya, ”Di ma­nakah Dia?” Jawabnya, ”Aku tidak tahu.” Lalu, mereka mem­­bawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan me­melekkan mata orang itu adalah hari Sabat. Karena itu orang-orang Farisi pun bertanya kepadanya, bagaimana ma­ta­­nya menjadi melek. Jawabnya, ”Ia mengoleskan aduk­an tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan se­­karang aku dapat melihat.” Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu, ”Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Sebagian pula berkata, ”Ba­gaimanakah seorang berdosa dapat membuat mukjizat yang demikian?” Maka timbullah pertentangan di antara mereka. Lalu kata mereka pula kepada orang yang tadinya buta itu, ”Dan engkau, karena Ia telah memelekkan matamu, apakah katamu tentang Dia?” Jawabnya, ”Ia seorang nabi!” Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya, bahwa tadinya ia buta dan baru sekarang dapat melihat. Maka mereka memanggil orang tuanya, dan bertanya kepada mereka, ”Inikah anakmu yang kamu katakan lahir buta? Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?” Jawab orang tua itu, ”Yang kami tahu dia ini anak kami, dan ia memang lahir buta. Te­tapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu; dan siapa yang memelekkan matanya, kami juga tidak tahu. Tanyakanlah kepadanya sendiri, sebab ia sudah dewasa; ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri.” Orang tuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengakui Yesus sebagai Mesias akan di­kucilkan. Itulah sebabnya maka orang tua itu berkata, ”Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri.” Lalu me­­reka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu, dan berkata kepadanya, ”Katakanlah kebenaran di ha­dap­an Allah: Kami tahu bahwa orang itu orang berdosa.” Jawabnya, ”Apakah Dia itu orang berdosa, aku tidak tahu! Tetapi satu hal yang aku tahu, yaitu: Aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat.” Kata mereka kepadanya, ”Apa­kah yang diperbuat-Nya kepadamu? Bagai­mana Ia dapat memelekkan matamu?” Jawabnya, ”Telah kukatakan ke­pada­mu, dan kamu tidak mendengarkannya. Mengapa ka­mu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kali kamu mau menjadi murid-Nya juga?” Sambil mengejek, orang-orang Farisi berkata kepadanya, ”Engkau saja murid orang itu, tetapi kami murid-murid Musa. Kami tahu bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu, kami tidak tahu dari mana Ia datang.” Jawab orang itu kepadanya mereka, ”Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, padahal Ia telah memelekkan mataku. Kita tahu bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, me­­lainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan ke­hendak-Nya. Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah mendengar bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa.” Jawab mereka, ”Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa, dan engkau hendak mengajar kami?” Lalu mereka mengusir dia ke luar. Yesus mendengar bahwa orang itu telah diusir oleh orang-orang Farisi. Maka, ketika bertemu dengan dia, Yesus berkata, ”Percayakah eng­­­­kau ke­pada Anak Manusia?” Jawabnya, ”Siapakah Dia, Tuhan, supaya aku percaya kepada-Nya.” Kata Yesus kepadanya, ”Engkau bukan saja melihat Dia! Dia yang sedang berbicara dengan engkau, Dialah itu!” Kata orang itu, ”Aku percaya, Tuhan!” Lalu ia sujud menyembah Yesus. Kata Yesus, ”Aku da­tang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa tidak melihat dapat melihat, dan supaya yang dapat melihat menjadi buta.” Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ, dan mereka berkata kepada Yesus, ”Apakah itu berarti kami juga buta?” Jawab Yesus kepada mereka, ”Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa. Tetapi karena kamu berkata ’Kami melihat’, maka tetaplah dosamu.”

Berbahagialah orang yang mendengarkan Sabda Tuhan, dan tekun melaksanakannya.

U   Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

 

Bacaan Injil (Singkat) Yoh. 9:1.6–9.13–1 7.34–38

    Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:

Orang buta itu pergi, membasuh diri, dan dapat melihat.

Sekali peristiwa, ketika Yesus sedang berjalan lewat, Ia me­lihat seorang yang buta sejak lahir. Maka Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu meng­­oleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya, ”Pergilah, basuhlah dirimu di kolam Siloam.” Siloam arti­nya: ”Yang Diutus”. Maka pergilah orang itu. Ia mem­basuh dirinya, lalu kembali dengan matanya sudah melek. Maka tetangga-tetangganya, dan me­reka yang da­hulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata, ”Bukankah dia ini yang selalu mengemis?” Ada yang berkata, ”Benar, dialah ini!” Ada pula yang berkata, ”Bukan, tetapi ia serupa dengan dia.” Orang itu sendiri berkata, ”Benar, akulah dia.” Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. Adapun hari waktu Yesus meng­aduk tanah dan memelekkan mata orang itu adalah hari Sabat. Karena itu orang-orang Farisi pun bertanya ke­padanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya, ”Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku mem­basuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat.” Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu, ”Orang ini tidak da­tang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Sebagian pula berkata, ”Bagaimanakah seorang ber­dosa dapat membuat mukjizat yang demikian?” Maka timbullah pertentangan di antara mereka. Lalu kata mereka pula ke­pada orang yang tadinya buta itu, ”Dan engkau, karena Ia telah memelekkan matamu, apakah katamu tentang Dia?” Jawabnya, ”Ia seorang nabi!” Tetapi orang-orang Fa­risi menegur dia, ”Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa, dan engkau hendak mengajar kami?” Lalu mereka mengusir dia ke luar. Yesus mendengar bahwa orang itu telah diusir oleh orang-orang Farisi. Maka, ketika bertemu dengan dia, Yesus berkata, ”Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Jawabnya, ”Siapa­kah Dia, Tuhan, supaya aku percaya kepada-Nya.” Kata Yesus kepadanya, ”Engkau bukan saja melihat Dia! Dia yang sedang berbicara dengan engkau, Dialah itu!” Kata orang itu, ”Aku percaya, Tuhan!” Lalu ia sujud menyembah Yesus.

Berbahagialah orang yang mendengarkan Sabda Tuhan, dan tekun melaksanakannya.

U   Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

 

Homili
Syahadat

 

Doa Umat

I     Melalui Kristus Putra-Nya, Allah Bapa begitu me­ngasihi kita. Maka marilah kita panjatkan doa kepada-Nya dengan penuh harapan.

L    Bagi para pemimpin Gereja.

Semoga Allah Bapa Mahabijaksana memberkati para pe­mim­pin Gereja agar selalu ramah dan bijaksana seperti Kristus dalam menggembalakan umat yang tengah berziarah menuju Kerajaan keselamatan-Nya. Marilah kita mohon …

  Kasihanilah kami umat-Mu, ya Tuhan.

L    Bagi para pejabat pemerintahan.

Semoga Allah Bapa Mahabaik memberikan terang sinar kasih-Nya bagi para pejabat pemerintahan kita sehingga mereka dengan giat mengusahakan segala sesuatu yang di­­perlukan untuk memajukan kesejahteraan masyarakat. Marilah kita mohon …

  Kasihanilah kami umat-Mu, ya Tuhan.

L    Bagi mereka yang sakit dan cacat mental.

Semoga Allah Bapa Mahabelaskasih membangkitkan rasa belas kasih kita terhadap mereka yang sakit dan cacat mental agar mereka itu jangan sampai dilalaikan ataupun disingkirkan, melainkan dirawat dengan cinta kasih. Marilah kita mohon …

U   Kasihanilah kami umat-Mu, ya Tuhan.

L    Bagi kita di sekitar altar ini.

Semoga Allah Bapa sumber cahaya sejati menerangi hati dan budi kita agar semakin mengenal Dia dan Kristus Putra-Nya, serta semakin menghayati mar­tabat kita sebagai putra dan putri cahaya. Marilah kita mohon …

  Kasihanilah kami umat-Mu, ya Tuhan.

    Allah Bapa Yang Mahakudus, dengarkanlah doa kami. Per­kenankanlah kami bersyukur kepada-Mu atas segala anu­gerah yang telah kami terima. Buatlah kami tenang karena percaya akan memperoleh apa yang kami harapkan dalam dan karena Kristus, Tuhan kami.

  Amin.

 

LITURGI EKARISTI

Doa Persiapan Persembahan 1

I     Ya Allah, dengan gembira kami mengunjukkan per­sembahan yang membawa keselamatan kekal bagi kami. Kami mohon, semoga kami sanggup merayakan kurban ini dengan penuh iman dan mewujudkannya dengan pantas dalam hidup kami demi keselamatan dunia. Dengan pengantaraan Kris­tus, Tuhan kami.

U   Amin.

Doa Persiapan Persembahan 2

I     Ya Allah, terimalah persembahan kami ini. Semoga Eng­kau selalu menjiwai kami untuk dengan gembira hati mem­per­sembahkan hidup kami, pengendalian diri dan mati raga kami demi keselamatan jiwa kami. Demi Kristus, Tuhan kami.

U   Amin.

 

Prefasi (Orang yang Lahir Buta)

I     Sungguh layak dan sepantasnya, bahwa kami selalu dan di mana pun bersyukur kepada-Mu, Tuhan, Bapa yang kudus, Allah yang Mahakuasa dan kekal: dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Dengan misteri penjelmaan-Nya, Ia menuntun umat manu­sia yang berjalan dalam kegelapan, masuk ke dalam terang iman, dan lewat sakramen kelahiran kembali, Ia mengangkat semua yang lahir sebagai budak dosa lama, menjadi anak angkat Allah.

Dari sebab itu, dengan sujud menyembah, segala makhluk sur­gawi dan duniawi mengidungkan nyanyian baru bagi-Mu. Bersama segenap laskar malaikat, kami pun meng­agung­­­kan Dikau sambil tak henti-hentinya bernyanyi/ber­seru:

U   Kudus, kudus, kuduslah Tuhan …

 

Antifon Komuni (bdk. Yoh. 9:11)

    Tuhan mengolesi mataku, lalu aku pergi, dan aku membasuh muka, dan aku melihat, dan aku percaya kepada Allah.

 

Doa sesudah Komuni 1

    Marilah kita berdoa.

Ya Allah, Engkau menerangi setiap orang yang lahir di dunia. Kami mohon terangilah hati kami dengan sinar rahmat-Mu agar kami mampu selalu memikirkan hal-hal yang pantas dan yang layak bagi keagungan-Mu serta mencintai Engkau dengan sungguh-sungguh. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa.

U   Amin.

Doa sesudah Komuni 2

I     Marilah kita berdoa.

Allah Bapa sumber cahaya abadi, kami bersyukur kepada-Mu atas cahaya hidup yang memancar dalam diri Yesus Kristus, Putra-Mu. Semoga, berkat kehadiran-Nya dalam diri kami, kami pun me­man­carkan terang-Mu bagi sesama sehingga kami semua mampu melihat jalan Putra-Mu yang akan membawa kami sampai kepada Kerajaan-Mu yang abadi. Sebab, Dialah Tuhan dan Pengantara kami.

U   Amin.

RITUS PENUTUP